WAKTU kanak-kanak dulu aku selalu bertanya-tanya
di manakah gerangan bermula jalan bercecabang itu.
Lalu seorang lelaki tua di paragraf pertama novelnya
menyimpan sebuah jawaban buat rasa penasaranku.

“Jalan-jalan diciptakan dari sekelok sungai,” katanya.

Aku percaya setiap rasa penasaran mengandung bahaya.
Jawaban itu kemudian membawaku ke pertanyaan baru.
Di mana bermula sungai yang melahirkan jalan-jalan itu?
Seorang gadis, dengan tangis, menjawab pertanyaanku.

“Sungai diciptakan dari sepasang mata,” katanya lalu pergi.

Pertanyaan tak pernah mau habis. Selanjutnya tentang mata.
Tetapi siapakah yang bisa menjawabnya? Gadis itu tiada lagi.
Maka aku menangis berharap mampu menemukan jawaban
dari mataku sendiri. Tetapi yang terjadi adalah airmataku
hanya melahirkan ribuan kelokan sungai yang melahirkan
jutaan cabang jalan. Dan asal mula mata tetap pertanyaan.

Setiap rasa penasaran memanglah mengandung bahaya.
Maka aku berdiri, berjalan, berlari mencari sendiri gadis itu,
gadis yang pernah memberi jawaban dan harapan padaku,
harapan yang pelan-pelan mengekal menjadi kehilangan.
Seluruh cabang-cabang jalan telah aku lewati, tetapi tidak
kutemukan cabang jalan mana yang menyembunyikannya.

Maka aku kembali menangis. Dan mataku menciptakan sungai.
Dan sungai itu menciptakan cabang-cabang jalan. Dan cabang-
cabang jalan itu menciptakan kehilangan. Dan kehilangan itu
membuat aku menangis. Dan mataku kembali menciptakan
sungai baru. Dan sungai baru itu menciptakan cabang-cabang
jalan baru. Dan cabang-cabang jalan baru itu menciptakan
kehilangan baru. Dan kehilangan baru itu membuat aku sekali
lagi menangis. Dan mataku sekali lagi menciptakan sungai baru.
Dan sungai baru itu sekali lagi menciptakan cabang-cabang jalan
baru. Dan cabang-cabang jalan itu sekali lagi menciptakan kehilangan
baru. Dan kehilangan baru itu sekali lagi membuat aku kembali
menangis. Dan seterusnya, dan seterusnya…


Mengapa kau harus berulang tahun di musim hujan?

–jimpe

Mengapa kau harus berulang tahun di musim hujan?

Benda-benda seluruhnya sedang belajar bersedih:
Kursi dan meja masing-masing seperti seorang kekasih
baru ditinggalkan. Penjual putucangkir dan jendela kayu
di wajahnya cuma ada sepasang mata sayu, mata yang layu.

Mengapa kau harus berulang tahun di musim hujan?

Suara-suara seluruhnya yang terdengar hanya perih:
Denting sendok pada cangkir kopi. Ada yang memilih
mendengar rintih biola daripada getar gitar yang lirih.
Keyboard komputer bicara tentang kertas suara pemilu
jatuh ke kotak dari jari seorang pemilih yang terisak pilu.

Mengapa kau harus berulang tahun di musim hujan?

Agar aku bisa kembali muda seperti pohon, katamu,
yang oleh musim hujan daun-daunya kembali hijau.

KEPADA SIAPA  ENAM PERTANYAAN INI SEBAIKNYA DITUJUKAN, HUJAN?

Adakah bujur yang mau berbagi tidur
dengan tubuhku di malam sedingin ini?

Adakah tidur yang mau berbagi dengkur
dengan telingaku di malam sedingin ini?

Adakah dengkur yang mau berbagi hibur
dengan sedihku di malam sedingin ini?

Adakah hibur yang mau berbagi tegur
dengan diamku di malam sedingin ini?

Adakah tegur yang mau berbagi sangkur
dengan sekaratku di malam sedingin ini?

Adakah sangkur yang mau berbagi bujur
dengan mayatku di malam sedingin ini?

–dua om, AA dan SM

Katakan kepada kami berdua, Nak,
di mana sebaiknya kami bertemu, setelah 40 tahun berpisah.

Di sebuah kafe yang pemiliknya senang memutar lagu lama, agar kalian
bisa saling menertawai sepuas-puasnya. Sebab dengan tertawa, air mata
punya alasan jatuh tanpa perlu malu-malu. Tawa itu tak ubahnya hujan.
Dia sangat lihai menyamarkan banyak hal, termasuk tentu saja keharuan.

Atau di sebuah bangku taman yang di dekatnya ada dua pohon tua yang semi,
agar kalian bisa tersenyum kepada waktu yang menyimpan banyak teka-teki.
Sebab batang-batang pohon tua yang sedang berbunga itu adalah kembaran
kalian yang menemukan jawaban: senyum di usia tua, tetap harus dibagikan.


HUJAN sudah terlalu sering mengganggu makan malamku,
juga mungkin makan malammu, dan makan malam siapapun.
Maka akan aku masukkan bukan hujan ke dalam sajak ini. Aku
tak mau ia mengusik pula tidurmu yang harusnya penuh rimbun
perdu yang di pucuk-pucuknya bermekaran kelopak kunang atau
sayap-sayap bunga, atau kuntum-kuntum pagi yang berembun.

Ke dalam sajak ini akan aku perdengarkan seorang menyanyi lagu
lama dengan bahasa ibu yang semenjak kau mengenal merek gincu
tak pernah sekalipun kau biarkan menjenguk sepasang telingamu,
supaya kau percaya bahwa aku terus merindukan wajah kanakmu.

Ke dalam sajak ini akan aku nyalakan satu pelita minyak bersumbu
perca yang cahayanya tak mampu mengalahkan sepasang matamu
supaya kau bisa menikmati tarian bayang-bayangmu, tempat selalu
aku menginderaimu sambil mengulang-ulang janji yang kau ucap dulu.

Ke dalam sajak ini akan aku masukkan juga diriku utuh sekaligus,
diriku yang mengenakan baju dan celana berwarna hijau humus,
sepasang pakaian yang semoga mengingatkan kau hujan pertama
di sebuah malam yang mengguyur tubuhku dan tubuhmu bersama.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.