–1 Desember
1640: Ini terjadi berabad-abad sebelum Christian Ronaldo lahir lalu hidup kaya dari kakinya dan dipuji-puja jutaan gadis. Portugal, nama negara di KTP pemuda gagah itu, merdeka dari Spanyol. Kau pernah salah duga, kau pikir Pablo Neruda, penyair yang menganggap cinta dan airmata sama artinya, lahir di Spanyol. Lalu aku mencari di perpustakaan, di ensiklopedia dan antologi-antologi puisi. Dari sana aku jatuh cinta pada Neruda. Di sajak-sajaknya ada aku, kau, dan bagaimana sakitnya saling mencintai seperti ini. Katamu suatu waktu di sebuah e-mail, mungkin Neruda pernah mimpi melihat kita menangis sambil saling memagut. Kau masih ingat?
1835: Hans Christian Andersen, lelaki yang terjebak di masa kanak-kanak, menerbitkan kumpulan dongeng pertamanya, Tales for Children. Dongeng-dongeng itu ingin kau tanam di telinga anak-anak yang kelak lahir dari tubuhmu, yang katamu juga dari tubuhku. Untuk berlatih, dulu kisah-kisah itu sering kau dongengkan kepadaku, seolah kau tahu aku selalu ingin jadi anak kecil di hadapanmu. Tetapi anak-anak itu betulkah akan lahir dari perut kita?
1935: Seabad setelah Hans Christian Andersen menerbitkan Tales for Children, Woody Allen, aktor dan sutradara yang kocak itu lahir. Mungkin sewaktu kecil ia sering mendengar juga dongeng-dongeng karya Andersen. Kau suka kalau Allen tertawa. Lucu, katamu. Seringkali aku putar sendiri film-filmnya untuk menghibur kesedihanku. Tetapi menurutku cara tertawa paling indah tetaplah milikmu. Meski di dalam tidurku, maukah kau tertawa?
1956: Ada yang mengundurkan diri dari kursi wakil presiden, Hatta namanya. Ia membiarkan kursi itu kosong hingga 1973, tahun saat David Ben-Gurion, Perdana Menteri Israel yang partama meninggal. Hingga kini kau tetap suka membaca. Tentulah nama-nama itu tak lagi asing bagimu. Kau ingat? Pernah kau memintaku jadi salah satu nama yang kau baca dari sebuah buku. Pernah juga kau memintaku jadi aku, hanya jadi aku. Sekarang kau ingin aku jadi siapa?
1990: Sungguh luar biasa. Terowongan Channel yang dibangun dari Inggris dan Perancis bertemu di kedalaman 40 meter di bawah ombak laut. Lupa kukatakan bahwa aku pernah membayangkan mencium lehermu di terowongan itu. Tetapi kini antara aku dan kau ada terowongan lain yang jauh lebih panjang dan gelap dari seluruh terowongan yang pernah dibangun. Tanpa kau, aku mencium lehermu setiap saat di terowongan lain itu. Kau rasakah?
1998: Sialan! Exxon mengumumkan sebuah transaksi raksasa, 73,7 trilliun dolar AS untuk membeli perusahaan minyak bernama Mobil dan membuat perusahaan terbesar di dunia, Exxon-Mobil. Andai saja, uang sebanyak itu punyaku, akan aku bangun sesuatu yang lebih megah dari Taj Mahal untukmu, hadiah ulang tahunmu. Atau aku beli sebuah mesin waktu untuk mengembalikanmu. Atau kau ingin yang lain?
2007: Aku di sini. Kau jauh. Alangkah rindunya. Ingin sekali mengajakmu makan siang di warung sederhana itu, tempat pertama kita bertemu dan saling jatuh cinta, tempat kita saling tahu makanan kegemaran, tempat kita sering berkelahi, tempat kita terakhir makan malam bersama sebelum kau pergi. Sebuah perihal tidak penting untuk dicatat Wikipedia, bukan? Wikipedia menulis tanggal ini sebagai peringatan hari AIDS sedunia. Hari ini aku mengenakan pita berwarna merah di dadaku bagi yang menderita penyakit ganas itu—juga untuk merayakan rindu dan kesedihanku yang lebih ganas dari itu. Hari ini kau berulang tahun, semoga airmata bukan milik kita selamanya!
–alifiah
Engkau tahu? Kepalaku: kantor paling sibuk di dunia.
Anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana.
Tak mengenal hari Minggu atau hari libur nasional.
Tak pula mengenal siang dan malam. Tak mengenal
apa-apa kecuali bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja.
Kadang-kadang ingin sekali suatu pagi melihatnya datang
menyodorkan sehelai map berisi surat permohonan cuti.
Ingin pergi ke satu tempat yang jauh, mengasingkan diri
beberapa hari di awal Desember yang lembab sembari
merayakan hari ulang tahun sendiri. Lalu di depan pintu
kantor terpasang sebuah tanda berwarna merah: Tutup.
Tetapi ia betul-betul seorang pekerja keras.
Setiap saat ia berada di kantor. Mungkin hendak
menyelesaikan seluruh persoalan waktu yang tidak
pernah mampu selesai itu: tentang masa lampau
yang tersisa di masa sekarang, tentang keinginan
berhenti atau tak berhenti, juga tentang perihal lain
yang sepele namun sungguh rumit buat dijelaskan.
Ya, percayalah! Kepalaku: kantor paling sibuk di dunia.
Anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana
:engkau saja!
ICHOU DAN MOMIJI
2007
Di Tokyo, di Taman Ueno, tempat seorang perempuan
pernah berjanji menunggumu lalu ingkar tanpa kau tahu
sebabnya, kau mendongak di bawah sepohon Ichou.
Kau heran mengapa pohon itu daun-daunnya berubah warna
dari hijau menjadi kuning di musim dingin.
Tetapi jawabannya kau temukan di pelukan perempuan lain,
perempuan yang mengatakan bahwa kau tak perlu risau
jika melihat daun-daun yang menguning, sebab musim lain
akan datang untuk mengembalikan hijaunya yang lebih hijau.
Di Kyoto, kota yang amat ramai dan tertib tempat orang-orang
takut membunyikan klaskon untuk sekadar menambah sedikit
keramaian itu, kau mendongak di bawah sepohon Momiji.
Kau heran mengapa pohon itu daun-daunnya berubah warna
dari hijau menjadi merah di musim dingin.
Tetapi jawabannya kau temukan pula di pelukan perempuan itu,
perempuan yang senang ketika mendengar kau lupa membawa
baju penghangat. Sebab dengan begitu kau memahami bahwa
lengan dan dadanya terbuat dari bulu-bulu angsa paling hangat.
JALAN-JALAN DI KYOTO
2007
Jalan-jalan di Kyoto tak kau pahami menuju ke mana saja.
Nama-namanya ditulis dengan huruf yang lebih rumit dari
seluruh kerumitan yang pernah menyusahkan hidupmu.
Kau takut melangkahkan kaki di sana, takut ditelan jalan
yang mengingatkanmu pada ular raksasa di sebuah film.
Namun jalan-jalan di tubuh perempuan itu, tak pernah
membuatmu takut tersesat. Sebab kau sudah penuh
oleh keyakinan bahwa di sebuah tempat di dadanya
akan kau temukan kuil yang jauh lebih tenang dari jutaan
kuil yang ada di Kyoto. Maka kau menjelajahinya seperti
seorang penduduk asli yang mengenali seluruh lekuk
kelok jalan-jalan itu sambil menyanyikan lagu-lagu cinta.
Sejak lama, sebelum kita butuh waktu,
aku sudah tinggal di runcing jejarum jam
yang bekerja keras seperti babu buat meyakinkan
:sekarang sudah pagi, sudah saatnya keluar dari mimpi!
Di jalan raya dan televisi, orang-orang lebih jauh,
sudah ada di pukul dua belas siang. Di kantor-kantor
pemerintah, tempat ayahmu bekerja, matahari baru
saja tenggelam, dan lampu dinyalakan satu per satu.
Namun, katamu lewat telepon, sekarang sudah Januari,
tahun sudah baru lagi. Waktu dihitung dengan kalender
bukan dengan angka-angka jam dinding atau jam tangan.
Aku ingin tertawa dari dasar kepedihan di lambungku
tetapi bahkan tawaku yang paling keras tak akan
mampu sampai menyentuh selaput telingamu.
Kita berpisah, dipisahkan, enam lembar kalender, cukup
buat pohon-pohon berwana kuning lalu hijau kembali.
Cukup buat wajahku bertukar wajah lain di ingatanmu.
Hingga nanti, setelah kita tak lagi butuh waktu,
aku akan mati dan terkubur di runcing jejarum jam.