entah mengapa selalu aku bayangkan puisi ini
adalah doa seorang anak kecil yang terbata-bata
Tuhan, maukah Kau mengatakan kepada bapak
agar dia berhenti bercita-cita seperti anak kecil?
dia ingin dunia dan isinya jadi tabungan keluarga
katanya untuk masa depanku, padahal aku tak
mau menanggung dosa itu. Tuhan, tolonglah aku!
entah mengapa selalu aku bayangkan diriku ini
adalah seorang bapak diam-diam sedang menangis
membaca puisi ini, doa anakku yang terbata-bata ini
Terima kasih, Tuhan, Kau jadikan anakku puisi!
dan entah mengapa juga selalu aku bayangkan kau
adalah ibu dari anakku beserta doanya juga puisi ini
INTEROGASI
2007
siapa tuhanmu?
siapa nabimu?
sudah betulkah pertanyaannya seperti itu?
tidakkah itu mengingatkanmu suatu waktu
di masa kecilmu saat melihat anak-anak lain
masuk ruangan diajari berdoa dan bernyanyi?
kau heran mengapa tak ditanya siapa nama ibu
dan ayah yang menelantarkanmu di jalan raya
padahal kau lebih merindukan keduanya
melebihi apapun melebihi siapapun
jangan-jangan semuanya bersekongkol
hendak menyiksamu dalam rasa perih
dengan merahasiakan silsilahmu?
siapa saudaramu?
kau menunjuk teman-temanmu
orang-orang melata itu
yang tawa paling riangnya adalah tangis
paling haru
banyak yang tertawa pada caramu menjawab
tetapi kau memang polos sekali
dan itulah kau, ikut tertawa pula
karena mereka memang senang
didustai—dan terutama mendustai
apa kitabmu?
ke mana kiblatmu?
kau tak perlu menjawabnya
ya, kau ingin tidur saja
tanpa diganggu mimpi buruk
tentang abjad dan arah
ketahuilah ada orang lain
bertanggungjawab
atas kepolosanmu
atas kebodohanmu
namun mereka tidak mau
memikirkanmu
sedang sibuk, kata mereka
maka berbaringlah saja
tak perlu repot menjawab
hingga kau dengar ada suara
yang sungguh-sungguh bertanya
mengapa kau diam?
2007
/1/
di beranda di hadapan pintu yang senantiasa terbuka
masih engkau biarkan berceceran kata-kataku yang lama
selamat tinggal yang pernah aku ucapkan lalu aku lupa
rasa bersalah apa engkau hendaki aku akui di pulang kali ini?
/2/
di dinding ruang tamu di bawah jam penghitung usia
menggantung sebuah pigura. di dalamnya apakah sengaja
engkau letakkan benda kecil yang tidak aku tahu namanya?
engkau melukis terlalu banyak kekosongan di sana
sementara pigura amat sempit buat menampungnya
apakah tidak sebaiknya menggambar langit di atasnya?
bagaimana jika di sekitarnya ada sebentang padang saja?
atau tidak perlukah ada sehamparan lautan pula di sana?
langit, padang dan lautan semuanya kekosongan pula. begitukah?
lama aku berdiri di depan lukisan itu berharap menemukan benda
tepat yang mampu mengisi kekosongan yang engkau sia-siakan itu
aku keluarkan semua benda yang pernah tersimpan di ingatanku
semakin aku mengeluarkan benda-benda dari kepalaku, dari dadaku,
semakin penuh aku berisi kekosongan. kekosongan yang lebih kosong.
kekosongan yang terlalu banyak untuk sebuah aku yang terlalu sesak
/3/
di atas meja di ruang makan di samping buku
yang tertutup menyimpan seluruh rahasiamu
ada yang meletakkan gelas berisi musim kering
dan menyajikan ladang-ladang mati di atas piring
apakah engkau ingin bicara tentang laut meninggalkan ikan,
tentang bayangan di gelap malam hari atau hujan lupa giliran?
ataukah engkau ingin bicara tentang bait-bait puisi
yang tak punya kata atau tentang isi sebuah puasa?
ke mana lagi harus haus menemukan minum?
ke mana lagi agar lapar menemukan makan?
/4/
di ruang tidur di padang ranjangmu yang lapang
ada bantal-guling dan selimut mencari gelinjang
adakah engkau simpan peluk untuk seluruh mataku kantuk
atau satu rengkuh untuk tubuh yang tumbuh makin ringkih?
/5/
di halaman belakang di sebuah taman kecil itu
taman yang pernah membunuh banyak bunga,
buah dan bebenihan hijau tumbuh-tumbuhan
satu lorong engkau baringkan menghadap langit
itukah jalan yang sungguh-sungguh
menujumu mesti langkahku tempuh?
apakah di ujungnya telah engkau persiapkan obat
buat semua sakit yang tak lagi mampu aku rawat?
2007