usiaku baru tiba di angka empat
saat sebuah bus berhenti di depan rumah
lalu pergi membawa lambaian ayah

ketika itu ibu mengenakan senyuman
pikirku pasti ia sedang bahagia
lalu aku kenakan juga senyuman
sebab aku pun ingin bahagia

kini aku sudah jauh meninggalkan usia empat
tetapi bus yang dulu itu tidak pernah kembali
juga ayah dan oleh-oleh yang ia janjikan

telah lama aku menanggalkan senyuman
namun ibu masih mengenakan senyuman yang sama
karena itu selalu aku bertanya: apakah ibu masih bahagia?

sambil tersenyum, ibu akan menjawab:
aku terus rindu dan menunggu ayahmu pulang,
itulah yang membuat aku tetap tersenyum
itulah yang membuat aku tak berhenti bahagia

Sebuah usaha, agar orang-orang
lebih banyak bicara dengan mata,
pemerintah membuat aturan ketat:
setiap orang hanya berhak memakai
seratus tiga puluh kata per hari, pas.

Jika telepon berdering, aku meletakkan
gagangnya di telingaku tanpa menyebut Halo.
Di restoran aku menggunakan jari telunjuk
memesan mi atau Coto Makassar. Aku secermat
mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.

Tengah malam, aku telepon nomor kekasihku
di Jakarta, dengan bangga aku bilang padanya:
Aku menggunakan delapan puluh sembilan
kata hari ini. Sisanya kusimpan untukmu.

Jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti
ia telah menghabiskan semua jatahnya,
maka aku pelan-pelan berbisik: Aku
mencintaimu, sebanyak lima belas kali.
Setelah itu, kami hanya duduk membiarkan
gagang telepon di telinga kami dan saling
mendengar dengus napas masing-masing.

2007

SAFINAH

2007

/1/

engkau memasang langkah di kakiku
engkau memasang ayun di tanganku
agar aku menjauh dan merindukanmu

dan engkau juga menyimpan sesuatu
di dalam waktu, aku tak tahu apa itu
karenanya aku terus tumbuh menuju
semakin dekat ke masa kecilku
semakin kembali ke bukit-dadamu
semakin kembali ke lembah-rahimmu

/2/

dari berangkat langit mengikutiku
penuh lubang seperti jaring nelayan
selalu luput menangkap seekor ikan

begitulah yang aku pikirkan di sini
di kejauhan yang hiruk oleh sepi ini

dan di dalam mataku yang terluka
selalu aku saksikan matamu terbuka
menampung seluruh langit yang nila
langit yang jauh dari musim hujan
langit yang meminta kita tiduran
di padang rumput sambil bercerita

tentang rupa-rupa nama burung
dan matahari sore yang murung

/3/

dulu aku mencuri sehelai fotomu dari album
dan aku sembunyikan di dompet kurusku
lalu berangkat tanpa tahu ke mana mengarah

di sini, di tempat yang sungguh jauh dari rumah
jauh dari album yang pernah menyimpan foto itu,
waktu melulu dipenuhi sapa sepi dan bunyi sunyi

tapi dari dompetku selalu aku dengar kau bernyanyi
mengulang-ulang kata pulang dan rembang petang
supaya kedua kakiku semakin kuat buat bertualang

/4/

di antara awan-awan yang melayang
alangkah biru angkasa itu

di antara jalan-jalan yang membentang
alangkah rindu anakmu, ibu

2007

kecupan yang kau tanam di keningku
kini telah tumbuh jadi pohon lebat

akar, batang dan cabang-cabangnya kuat
tempat anak-anak senang memanjat

sesekali
tidakkah kau ingin datang
mengecap kecut buahnya?

2007

hari datang
menemukan tubuhku sendiri
telentang di tempat tidur

dan pecahlah gelas
yang menampung tidurku

dan mimpiku
tentang tangan kecilmu
memegang buku puisi
dan bibirmu pelan-pelan
membuka dan menutup
membaca kata-kataku
tentang bulan meleleh

dan malam lelah
sia-sia menunggu

hari datang
menemukan tubuh kita sepasang
telanjang di tempat tidur

2007