usiaku baru tiba di angka empat
saat sebuah bus berhenti di depan rumah
lalu pergi membawa lambaian ayah

ketika itu ibu mengenakan senyuman
pikirku pasti ia sedang bahagia
lalu aku kenakan juga senyuman
sebab aku pun ingin bahagia

kini aku sudah jauh meninggalkan usia empat
tetapi bus yang dulu itu tidak pernah kembali
juga ayah dan oleh-oleh yang ia janjikan

telah lama aku menanggalkan senyuman
namun ibu masih mengenakan senyuman yang sama
karena itu selalu aku bertanya: apakah ibu masih bahagia?

sambil tersenyum, ibu akan menjawab:
aku terus rindu dan menunggu ayahmu pulang,
itulah yang membuat aku tetap tersenyum
itulah yang membuat aku tak berhenti bahagia

SAFINAH

2007

/1/

engkau memasang langkah di kakiku
engkau memasang ayun di tanganku
agar aku menjauh dan merindukanmu

dan engkau juga menyimpan sesuatu
di dalam waktu, aku tak tahu apa itu
karenanya aku terus tumbuh menuju
semakin dekat ke masa kecilku
semakin kembali ke bukit-dadamu
semakin kembali ke lembah-rahimmu

/2/

dari berangkat langit mengikutiku
penuh lubang seperti jaring nelayan
selalu luput menangkap seekor ikan

begitulah yang aku pikirkan di sini
di kejauhan yang hiruk oleh sepi ini

dan di dalam mataku yang terluka
selalu aku saksikan matamu terbuka
menampung seluruh langit yang nila
langit yang jauh dari musim hujan
langit yang meminta kita tiduran
di padang rumput sambil bercerita

tentang rupa-rupa nama burung
dan matahari sore yang murung

/3/

dulu aku mencuri sehelai fotomu dari album
dan aku sembunyikan di dompet kurusku
lalu berangkat tanpa tahu ke mana mengarah

di sini, di tempat yang sungguh jauh dari rumah
jauh dari album yang pernah menyimpan foto itu,
waktu melulu dipenuhi sapa sepi dan bunyi sunyi

tapi dari dompetku selalu aku dengar kau bernyanyi
mengulang-ulang kata pulang dan rembang petang
supaya kedua kakiku semakin kuat buat bertualang

/4/

di antara awan-awan yang melayang
alangkah biru angkasa itu

di antara jalan-jalan yang membentang
alangkah rindu anakmu, ibu

2007

/1/

di beranda di hadapan pintu yang senantiasa terbuka
masih engkau biarkan berceceran kata-kataku yang lama
selamat tinggal yang pernah aku ucapkan lalu aku lupa

rasa bersalah apa engkau hendaki aku akui di pulang kali ini?

/2/

di dinding ruang tamu di bawah jam penghitung usia
menggantung sebuah pigura. di dalamnya apakah sengaja
engkau letakkan benda kecil yang tidak aku tahu namanya?

engkau melukis terlalu banyak kekosongan di sana
sementara pigura amat sempit buat menampungnya

apakah tidak sebaiknya menggambar langit di atasnya?
bagaimana jika di sekitarnya ada sebentang padang saja?
atau tidak perlukah ada sehamparan lautan pula di sana?

langit, padang dan lautan semuanya kekosongan pula. begitukah?

lama aku berdiri di depan lukisan itu berharap menemukan benda
tepat yang mampu mengisi kekosongan yang engkau sia-siakan itu
aku keluarkan semua benda yang pernah tersimpan di ingatanku

semakin aku mengeluarkan benda-benda dari kepalaku, dari dadaku,
semakin penuh aku berisi kekosongan. kekosongan yang lebih kosong.
kekosongan yang terlalu banyak untuk sebuah aku yang terlalu sesak

/3/

di atas meja di ruang makan di samping buku
yang tertutup menyimpan seluruh rahasiamu
ada yang meletakkan gelas berisi musim kering
dan menyajikan ladang-ladang mati di atas piring

apakah engkau ingin bicara tentang laut meninggalkan ikan,
tentang bayangan di gelap malam hari atau hujan lupa giliran?

ataukah engkau ingin bicara tentang bait-bait puisi
yang tak punya kata atau tentang isi sebuah puasa?

ke mana lagi harus haus menemukan minum?
ke mana lagi agar lapar menemukan makan?

/4/

di ruang tidur di padang ranjangmu yang lapang
ada bantal-guling dan selimut mencari gelinjang

adakah engkau simpan peluk untuk seluruh mataku kantuk
atau satu rengkuh untuk tubuh yang tumbuh makin ringkih?

/5/

di halaman belakang di sebuah taman kecil itu
taman yang pernah membunuh banyak bunga,
buah dan bebenihan hijau tumbuh-tumbuhan
satu lorong engkau baringkan menghadap langit

itukah jalan yang sungguh-sungguh
menujumu mesti langkahku tempuh?

apakah di ujungnya telah engkau persiapkan obat
buat semua sakit yang tak lagi mampu aku rawat?

2007

panjang hari-hari kemarau
mengubah rimbun rumpun
bambu jadi sapu lidi
agar debu-debu
tak menutup bening kaca
jendela

bersama tikungan jalan
pandangku menjemput
datangmu

dan aku bereskan airmata
sebelum tanganmu
mengetuk daun
pintu

2006

udara begitu kelam,
diam bagai air kolam.

engkau mengendap-endap ke dalam kenangku,
pelan meletakkan satu ciuman di keningku.

lalu seluruh waktu silam
tiba-tiba ingin kembali aku sulam.

wahai, di mana gerangan kini engkau tertambat,
jika aku pulang apakah aku terlambat?

2006