entah mengapa selalu aku bayangkan puisi ini
adalah doa seorang anak kecil yang terbata-bata

Tuhan, maukah Kau mengatakan kepada bapak
agar dia berhenti bercita-cita seperti anak kecil?
dia ingin dunia dan isinya jadi tabungan keluarga
katanya untuk masa depanku, padahal aku tak
mau menanggung dosa itu. Tuhan, tolonglah aku!

entah mengapa selalu aku bayangkan diriku ini
adalah seorang bapak diam-diam sedang menangis
membaca puisi ini, doa anakku yang terbata-bata ini

Terima kasih, Tuhan, Kau jadikan anakku puisi!

dan entah mengapa juga selalu aku bayangkan kau
adalah ibu dari anakku beserta doanya juga puisi ini

engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana
agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan
seperti aku sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja
agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan

2007

di tempat-tempat yang tak sempat dilewati kakimu
pengalaman-pengalaman sedang mencari tubuhmu
tetapi bundar bumi amat besar buat ringkas usiamu

seluruh pengalaman-pengalaman itu sungguh butuh
sajak-sajakmu sebagai suara agar mampu menyentuh
telinga dan dada orang-orang itu lebih indah dan utuh

2007

“…itu rahasia kita saja, simpanlah!”

waktu itu satu jam sebelum sabtu
engkau pergi mengikuti anak sungai
lalu lenyap di perangkap kuala
seperti bayangan ditelan mulut cahaya
dari segala arah

kepada puisi yang malu menampung kata-kataku
telah berkali-kali aku mohonkan sedikit waktu
untuk berbincang di bawah rindang pohon waru

ketahuilah puisi harus jujur, katanya,
meskipun harus bicara dengan bahasa asing,
bahasa yang hening atau yang bising

puisi enggan menanggung rahasia

dan persoalan ini tetaplah menyiksaku
melarangku jadi lelaki tua dan mati

sementara alangkah rindunya
liang makam pada tubuhku
seperti anak-anak bermimpi
tertidur di rahimmu yang basah

benarlah katamu, rahasia adalah masalah
dan engkau membangun penjara di sana
untuk aku dan gaung suaramu

“…itu rahasia kita saja, simpanlah!”

2007

Beginilah akhirnya yang mampu aku tuliskan;
sebuah sajak yang tak indah.

sebab semua kata yang dulu indah di mata-telinga
telah menyembunyikan dirinya entah di mana
sementara waktu telah pula mempercepat langkah
seperti diburu bermacam-macam masalah.

maka lihatlah betapa miskin sajak ini!
seperti seorang janda yang memaksa anaknya
melupakan sepatu dan tas berisi buku dan pensil
agar mau merelakan diri jadi kadal di jalan raya.
seperti juga tetangganya yang memenggal kepala
anak-anaknya yang menangis meminta makan.

maka lihatlah betapa koyak sajak ini!
persis seperti pakaian para pengemis
yang selalu membuat gadis-gadis
jijik dan tak bisa makan berhari-hari.
persis sebuah kampung yang berkali-kali
dilindas kaki-kaki bencana.

beginilah akhirnya yang mampu kutuliskan:
sebuah sajak yang tak indah.

sebab kalimat sudah tak punya tangan
sejak dilukai oleh poster-poster kampanye
calon presiden dan gubernur
sementara air mata tak lagi manjur
menyembuhkan rasa sakit atau luka.

andai saja sajak ini sedikit lebih indah
akan aku sampirkan pada surat cintaku padamu
–cinta yang padanya seluruh rambut,
gigi dan usiaku rela berguguran.

2006