:Nenek

BEBERAPA hari setelah kau pergi
aku menerima kiriman ini:
sore berwarna merah hati seperti bibirmu
belepotan dengan daun sirih dan pinang
juga dongeng yang tak menemukan akhirnya

tentang lelaki yang suka bersenandung
setiap mendengar malam jatuh di bubungan
dan seorang perempuan yang hidup
dengan telinga di setiap ujung rambutnya

BEBERAPA hari setelah kau pergi
aku akhirnya membuka jendela kamar
dan menemukan hujan membuat danau
di sepatu kiriku dan laut di sepatu kananku

lima jari kakiku jadi anak kecil di danau itu berenang
seperti waktu tak punya kemauan untuk beranjak
lima jari kakiku yang lain bersiap jadi perantau
berlayar menunggang ombak mencari jarak
ingin segera melupakan waktu yang bergerak

BEBERAPA hari setelah kau pergi
di langit aku berjumpa dengan bulan
tipis seperti sesungging senyum yang enggan
dan awan abu-abu seperti seragam yang kotor

aku mengenang senyummu di sebuah pagi
ketika usiaku belum pantas menyebut-nyebut
perempuan, pelaminan atau malam pertama
dan kau memegang kelaminku yang belum disunat

BEBERAPA hari setelah kau pergi
pohon-pohon kopi di belakang rumah
memasang musim semi di rantingya
bunganya membawa kembali nafas,
aroma konde dan pelukanmu ke dadaku

pohon-pohon kopi itu kau yang tanam
sebab katamu kau benci kopi kemasan
pohon-pohon itu kau wariskan kepadaku
agar aku selalu lebih cerah dari matahari

DI BERANDA

2007

sementara aku duduk di sini
di beranda renta ini
ada seorang melewati jalan
di depan rumah, amat lamban
langkah-langkahnya
seolah tak ada seorang pun
menunggunya di sebuah tempat,
di sebuah beranda,
di sebuah tujuan

dan aku disergap haru
hanya duduk tak menunggu
siapa pun melainkan maut

2007

DOA

2007

ingatkan agar aku sadar
usiaku akan pelan-pelan
berubah jadi bumi

ingatkan aku seluruh tangan
yang pernah menanam bebijian
di ladang-tubuhku

sebab aku ingin melihat mereka
merayakan pesta di musim panen

2007

JAUH WAKTU

2007

/1/

jauh waktu sebelum engkau memandikan kekeringan
mayatku dengan air mata, aku telah menerima hadiah
kematian bagi seluruh rasa sakit di tubuhku ini
dengan keriangan yang tidak sanggup ditampung
oleh senyuman atau bahkan bahakan

/2/

jauh waktu sesudah aku tak tersentuh ingatanmu
kematianku akan hidup sebagai anak-anak pohon
di halaman depan dan engkau menyiramnya
karena takut kehilangan senyuman orang-orang
yang ramai melintasi jalanan di depan rumah

2007

/1/

di beranda di hadapan pintu yang senantiasa terbuka
masih engkau biarkan berceceran kata-kataku yang lama
selamat tinggal yang pernah aku ucapkan lalu aku lupa

rasa bersalah apa engkau hendaki aku akui di pulang kali ini?

/2/

di dinding ruang tamu di bawah jam penghitung usia
menggantung sebuah pigura. di dalamnya apakah sengaja
engkau letakkan benda kecil yang tidak aku tahu namanya?

engkau melukis terlalu banyak kekosongan di sana
sementara pigura amat sempit buat menampungnya

apakah tidak sebaiknya menggambar langit di atasnya?
bagaimana jika di sekitarnya ada sebentang padang saja?
atau tidak perlukah ada sehamparan lautan pula di sana?

langit, padang dan lautan semuanya kekosongan pula. begitukah?

lama aku berdiri di depan lukisan itu berharap menemukan benda
tepat yang mampu mengisi kekosongan yang engkau sia-siakan itu
aku keluarkan semua benda yang pernah tersimpan di ingatanku

semakin aku mengeluarkan benda-benda dari kepalaku, dari dadaku,
semakin penuh aku berisi kekosongan. kekosongan yang lebih kosong.
kekosongan yang terlalu banyak untuk sebuah aku yang terlalu sesak

/3/

di atas meja di ruang makan di samping buku
yang tertutup menyimpan seluruh rahasiamu
ada yang meletakkan gelas berisi musim kering
dan menyajikan ladang-ladang mati di atas piring

apakah engkau ingin bicara tentang laut meninggalkan ikan,
tentang bayangan di gelap malam hari atau hujan lupa giliran?

ataukah engkau ingin bicara tentang bait-bait puisi
yang tak punya kata atau tentang isi sebuah puasa?

ke mana lagi harus haus menemukan minum?
ke mana lagi agar lapar menemukan makan?

/4/

di ruang tidur di padang ranjangmu yang lapang
ada bantal-guling dan selimut mencari gelinjang

adakah engkau simpan peluk untuk seluruh mataku kantuk
atau satu rengkuh untuk tubuh yang tumbuh makin ringkih?

/5/

di halaman belakang di sebuah taman kecil itu
taman yang pernah membunuh banyak bunga,
buah dan bebenihan hijau tumbuh-tumbuhan
satu lorong engkau baringkan menghadap langit

itukah jalan yang sungguh-sungguh
menujumu mesti langkahku tempuh?

apakah di ujungnya telah engkau persiapkan obat
buat semua sakit yang tak lagi mampu aku rawat?

2007

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.