:mengenang nh

kini aku ada di sisi tidurmu
ingin bertanya satu rahasia

apakah kau suka berjalan
sambil tidur?

kau datang setiap malam
menemaniku berbincang

tetapi matamu terpejam

2007

:kepada Abdi

Alangkah lama dia biarkan kita jadi anak kecil
tetapi mengapa kita terus jatuh cinta padanya?

Air mata bertahun-tahun kita simpan untuk malam ini
dan alangkah cengengnya kita di hadapan senyumnya,
senyuman yang tak mau melepaskan diri dari bibirnya.

Hari ini akhirnya telah dia biarkan kita jadi dewasa,
kita boleh tidur sendiri tanpa dongeng raksasa.

Lihatlah, nenek kita yang cantik itu sudah tidur,
dia sungguh cantik seperti gadis yang jatuh cinta
mari kita kirimkan mimpi indah untuk matanya!

2007

Marie Sofie, sejenak lupakan saja bahasa Prancis
yang susah mengalir di bibir orang-orang Bugis

Akan kuajari kau beberapa kata,
mereka bicara dengan bahasa
masa kecilku yang sederhana

“Oui, merci.”

Marie Sofie, merci n’est pas buginese.
Terima kasih bukan di lidah tapi di mata

Jika mereka menyuguhimu secangkir teh
reguk manisnya dan tersenyumlah
sebagai batang-batang tebu tua
itulah terima kasih yang mereka ketahui

Bertamulah seperti anaknya baru pulang rantau
mereka tak menunggu buah tangan darimu
atau kenang-kenangan saat kau tinggalkan

Tak perlu berjanji kapan-kapan akan datang
mereka yakin penuh engkau akan pulang
seperti nasi dan sayur mereka hilang
seluruh kau simpan dalam kenang.

2007

:hah

Menuju Kota Kutai, aku mampir di Gunung Pasir
di sebuah warung menggantung di tubuh tebing
istirahat minum secangkir teh hangat
sambil menyaksikan matahari pucat
jatuh ke sela-sela bukit kerontang
dan hampar lautan subur ditumbuhi kilang

Aku teringat kawan, seorang penyair
di sinilah ia lahir
lalu menyingkir karena terusir
oleh lelaki-lelaki kuat
mengangkat kayu gelondong
dan minyak bertong-tong

Sesaat setelah magrib dinyalakan
lelampu tiba-tiba saja padam
Dari mesjid azan terpenggal
serupa suara seru tak dihafal
Perempuan dari balik bilik kasir
aku dengar berkata nyinyir,

“Ladang minyak, ladang minyak,
lampu padam tiap malam.”

Di Gunung Pasir,
aku teringat seorang penyair
yang belusuka menulis syair sarat sindir

2006

/1/

hari ini engkau sungguh gembira
diwisuda dan bergelar sarjana
hatimu senang tinggi melambung
yang datang seisi kampung.

“selamat berjuang, semoga engkau diterima sebuah perusahaan!”

/2/

hari ini aku juga mengirim duka
satu sahabat tak sempat diwisuda
ombak datang tinggi menggulung
menghabiskan seisi kampung

“selamat jalan, semoga engkau diterima di sisi Tuhan!”

2005