di mana rumputan menemukan bunga?
di rahim tanah, di rahim tanah yang gembur

di mana sumur mendapatkan mataair?
di mana alir sungai-sungai akan berhilir?
di rahim tanah, di rahim tanah yang subur

di mana akan kau tanam tangismu?
di rahim tanah, di tempat ibuku terkubur

2007

dulu dari lengan bunga dan dahan pohon jambu
ibu membentangkan utasan temali buat cucian
lalu ia meminjam matahari dan angin kemarau
hanya untuk melepaskanmu dari segala kotoran

kini tak ada lagi pohonan dan lapang pekarangan
hanya di punggung ibu subur-tumbuh tulang besi
tempat ia mengeringkan seluruh bebasah-pakaian
yang setiap hari tak henti-hentinya engkau nodai

2007

1.

Kugunduli kepalamu sebelum pergi
rambutmu panjanglah saat kembali

Sebelum berangkat saat mengikat tali sepatu
di kaki tangga kayu kau mengatakan pesan itu

Setelah masuk semua pintu salon di kota ini
berdoa kepada vitamin dan pencuci rambut
kepalaku tetaplah bukit gersang seperti dulu

Ibu, aku selalu percaya kau akan sabar
menunggu hingga rambutku tumbuh subur

2.

Apakah lidahmu penuh jejak kaki?

Mulutku ini gua, di pintunya ada sarang laba-laba
tetapi tak ada seekor burung mau bertelur di sana,
ada ular, menunggu mangsanya, melingkar-lingkar
liurnya racun paling bisa dan tak memiliki penawar

Ibu, kecuali jejak tapakku sendiri,
tak selangkah kaki pun melewati
itukah yang engkau kehendaki?

3.

Ada sebatang pohon aku tanam di dadamu,
apakah bayangannya meneduhi kepalamu?

Aku tak pernah berhenti jadi anak-anak
senang telanjang berlari di bawah hujan
di tubuhku selalu ada yang minta disiram

Tetapi matahari di musim kemarau,
hanya menghormati bayanganmu.

4.

Jika kau sudah mampu mengelilingi dapurnya tujuh kali,
aku bisa menyanyi ninabobo buat cucuku tak lama lagi.

Kota telah menyiapkan aneka restoran lengkap dengan pelayan
mereka perempuan yang senang berjanji jadi kekasih atau istri

Apakah anak selalu harus mengalah atau bisa membantah
pada beberapa kutipan dari lembaran kitab-kitab lama itu?

2007

di pangkal tidurnya mereka dengar bisikan
halus bagai biji-biji hujan yang berkecambah
siap tumbuh memanjat udara ke awan-awan
setelah diguyur panas matahari tidak terbelah

“Nak, mari ikut Ibu berenang ke muara,
sungai susu sudah mulai mengaliri dada.”

kuntum-kuntum mata mereka dikatupkan
dan menikmati tubuhnya hanyut perlahan

2007

MATA IBU

2007

sejak dulu kala
matamu hulu kali

airnya lelehan cermin
menggenangi pipi, telaga tempat ikan-ikan
berenang; anak-anak yang engkau lahirkan
dan tumbuh dewasa lalu melepaskan
siripnya di antara batu-batu buta

air itu jualah menguap ke langit
sebab tak ada mulut laut
mau jadi muara

di ceruk pipimu, para pemancing datang
bagai gelombang pengungsi dari pulau-pulau jauh

tetapi engkau sungguh tak tahu mengeluh
sebab air kali itu membuat langit
selalu biru,
selalu baru
dan lelaki bangun mendapati
setiap hari sebagai hari baik buat memancing

tetapi engkau sungguh tak tahu mengeluh
mulutmu corong seluruh doa paling minta
agar tuhan tak mengeringkan kali
sebelum ternak dan anak-anak
menemukan hujan

2006

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.