AKU baru saja pindah kerja dan menempati ruangan baru.
Barangkali bekas pemilik ruangan ini sengaja memasang
di dinding dekat meja kerjaku, bingkai berisi gambar repro
seorang perempuan yang pernah berperan di sebuah film lama.
Dia telentang telanjang di hamparan rumput warna hijau-coklat.
Kesepian sekali dia bagiku. Payudaranya aku lihat bagai bukit
yang tak ditumbuhi pohon apa pun. Putingnya lebih menyerupai
batu nisan. Tubuh siapakah gerangan yang terkubur di sana?

Semakin aku memandang gambar itu semakin aku merindukan ibuku.
Dulu aku membayangkan tubuhku terkubur di antara dua payudaranya
selama-lamanya sebagai seorang bayi yang tidak mengenal kata-kata
kecuali suara-suara ayah yang selalu menghendaki aku tumbuh dewasa.

*

AKU baru saja pindah kerja dan mendapati pimpinan baru.
Di hari pertama wajahnya tak menyerupai wajah siapa pun
yang aku kenal. Namun di hari kedua dan selanjutnya dia
berubah jadi ayahku: suka marah-marah dan menganggap aku
selalu sebagai seorang anak kecil yang tak memahami apa-apa.
Setiap hari dia menanam keperihan-keperihan baru di dadaku.

Barangkali karena itulah bekas pemilik ruangan ini memasang
gambar perempuan telanjang yang mirip ibu, ibuku atau mungkin
juga ibunya, di dekat meja kerja di ruangan baru ini. Agar tak terlupa
bahwa ibu satu-satunya peri yang bisa menghibur segala rupa perih.

entah mengapa selalu aku bayangkan puisi ini
adalah doa seorang anak kecil yang terbata-bata

Tuhan, maukah Kau mengatakan kepada bapak
agar dia berhenti bercita-cita seperti anak kecil?
dia ingin dunia dan isinya jadi tabungan keluarga
katanya untuk masa depanku, padahal aku tak
mau menanggung dosa itu. Tuhan, tolonglah aku!

entah mengapa selalu aku bayangkan diriku ini
adalah seorang bapak diam-diam sedang menangis
membaca puisi ini, doa anakku yang terbata-bata ini

Terima kasih, Tuhan, Kau jadikan anakku puisi!

dan entah mengapa juga selalu aku bayangkan kau
adalah ibu dari anakku beserta doanya juga puisi ini

usiaku baru tiba di angka empat
saat sebuah bus berhenti di depan rumah
lalu pergi membawa lambaian ayah

ketika itu ibu mengenakan senyuman
pikirku pasti ia sedang bahagia
lalu aku kenakan juga senyuman
sebab aku pun ingin bahagia

kini aku sudah jauh meninggalkan usia empat
tetapi bus yang dulu itu tidak pernah kembali
juga ayah dan oleh-oleh yang ia janjikan

telah lama aku menanggalkan senyuman
namun ibu masih mengenakan senyuman yang sama
karena itu selalu aku bertanya: apakah ibu masih bahagia?

sambil tersenyum, ibu akan menjawab:
aku terus rindu dan menunggu ayahmu pulang,
itulah yang membuat aku tetap tersenyum
itulah yang membuat aku tak berhenti bahagia

sejak kaki ayah tak lagi mengenal bilah-bilah
lantai rumah kayu yang pernah dibangunnya
dan aku serta dua adikku memiliki pikiran
masing-masing yang berbeda satu sama lain
ibu bersahabat dengan benda-benda tajam

jarum

untuk menjahit, katanya
sebab waktu senantiasa selimut rombeng
sementara tulang-tulangnya jadi sarang
penyakit aneh yang tak bisa ia sebutkan namanya
seperti menyebut nama-nama orang yang dicintainya

pisau

kadang-kadang ia benci ranum buah-buahan
apel dan tomat yang merah,
semangka dan mangga berkulit kencang
atau mentimun yang segar dan putih

masa-masa remajanya tak bisa kembali
seperti juga alamat ayah yang sia-sia dicari

gunting

bunga-bunga dan rumput di halaman
suka berubah jadi uban di kepalanya
ia tak ingin ada hutan menyeramkan
tumbuh di sana sebab bagaimanapun
ia tak pernah lelah menunggu anaknya
datang mencium keningnya atau
mungkin ayah dengan oleh-oleh
sebuah cerita tentang petualangan

cermin

bukan dada dan pipinya yang suka ia ajak bicara
tetapi ia senang menantang sepasang matanya
agar terus bertahan dan tidak segera menyerah
kepada musim hujan dan mimpi-mimpi buruk
yang selalu bersiap melompat masuk ke sana

2007

SAFINAH

2007

/1/

engkau memasang langkah di kakiku
engkau memasang ayun di tanganku
agar aku menjauh dan merindukanmu

dan engkau juga menyimpan sesuatu
di dalam waktu, aku tak tahu apa itu
karenanya aku terus tumbuh menuju
semakin dekat ke masa kecilku
semakin kembali ke bukit-dadamu
semakin kembali ke lembah-rahimmu

/2/

dari berangkat langit mengikutiku
penuh lubang seperti jaring nelayan
selalu luput menangkap seekor ikan

begitulah yang aku pikirkan di sini
di kejauhan yang hiruk oleh sepi ini

dan di dalam mataku yang terluka
selalu aku saksikan matamu terbuka
menampung seluruh langit yang nila
langit yang jauh dari musim hujan
langit yang meminta kita tiduran
di padang rumput sambil bercerita

tentang rupa-rupa nama burung
dan matahari sore yang murung

/3/

dulu aku mencuri sehelai fotomu dari album
dan aku sembunyikan di dompet kurusku
lalu berangkat tanpa tahu ke mana mengarah

di sini, di tempat yang sungguh jauh dari rumah
jauh dari album yang pernah menyimpan foto itu,
waktu melulu dipenuhi sapa sepi dan bunyi sunyi

tapi dari dompetku selalu aku dengar kau bernyanyi
mengulang-ulang kata pulang dan rembang petang
supaya kedua kakiku semakin kuat buat bertualang

/4/

di antara awan-awan yang melayang
alangkah biru angkasa itu

di antara jalan-jalan yang membentang
alangkah rindu anakmu, ibu

2007