Meskipun aku bukan tak pernah berpaling dari janji,
janjiku kali ini boleh penuh kau percaya.

Aku masih bisa diajak bermain hujan.

Ya, di jalan raya yang digenangi bau selokan.
Di tempat-tempat parkir supermarket.
Di halaman-halaman kantor pemerintah.
Di lapangan sepakbola, di jembatan, di pasar,
di depan pabrik susu, atau di mana saja.

Tetapi, maafkan aku, sejak
hari ini aku tak mau lagi bermain hujan di dalam sajak.

Di dalam sajak, hujan melulu
dingin, kesedihan dan kenangan.

Sajak, entah aturan siapa, selalu
menutup mata pada banjir,
menutup telinga pada petir.

Inilah sajak terakhir
tentang hujan.

Tetapi jangan khawatir,
aku masih bisa diajak bermain hujan.


–rara

Sebelum menikah dengan seorang lelaki kutubuku
nenekku tinggal di langit. Ia punya kebun di sana.
Penuh pepohonan. Sebelum sempat berbuah,
ia jadi pengantin. Maka setiap malam ia berdoa.
Doanya lebih senang aku sebut dongengan.

“Tuhan, aku ingin tahu bagaimana rasanya
musim panen. Kirimkan aku buah-buahan
yang datang dari ranting-ranting pohonku.”

Pernah suatu malam berjatuhan buah-buahan
di atap rumah kami. Aku dengar persis suara
seorang gadis kecil yang menangis. Dan, kau
tahu, aku jatuh cinta kepada gadis kecil itu.

Ra, mencintai hujan adalah mencintai kesedihan
seorang gadis kecil yang tak bisa disembuhkan.

Aku hanya ingin jadi obat yang merawat
seluruh kesedihan di mata kekasihku itu,
kekasih yang airmatanya selalu membuat
aku membutuhkan kehangatan selimut.

Ra, kini kami ingin saling menyembuhkan
persis seperti puisi kepada luka-luka yang
disebabkan oleh hidup yang kita sia-siakan.

Sebetulnya sudah pagi
tetapi matahari lenyap
dan matamu tetap lelap.

Orang yang ramai melintas
di depan rumah ramai juga
melintas di dalam mimpimu
dengan wajah jauh lebih ramah.

Langit sangat memahami apa
yang terjadi antara kenyataan
di luar dan di dalam mimpimu
maka ia kirimkan hujan pagi ini.

Sebetulnya sudah hampir siang
tetapi kau terus saja mengamati
tiap wajah yang melintas itu.

Kau sibuk mencari-cari satu wajah.

Di luar tidurmu, tentu kau tidak tahu,
orang-orang sedang mengutuk hujan.

Tetapi hujan sangat mencintaimu.
Ia tidak hendak kembali ke langit,
sebelum kau menemukan wajah itu,
sebelum kau mengecup wajah itu,
wajah yang selalu kau rindukan itu.

Telah sampai di halamanmu langit mengulur hujan:
berjuta-juta utas kabel tipis yang mengantar kembali
semua berita-cerita-derita yang pernah kau makamkan
sebagai kenangan di musim kemarau kemarin.

“Musim hujan selalu saja kembali seperti ini
membuat subur yang mendengkur di liang kubur.
Musim hujan itu kesedihan yang berkembang biak
beranak pinak kesedihan lain yang lebih banyak,” katamu.

Musim hujan bukanlah kesedihan itu sebenarnya.
Ia adalah keriangan yang merindukan kesedihan.
Sebab anak yang lahir dari pernikahan kesedihan
dan keriangan adalah puisi. Puisi paling puisi.

Pernahkah kau menyaksikan rimbun embun puisi
di bening kaca jendelamu ketika gelak anak-anak
mandi di selokan menyapamu yang sedang terisak?

Selamat pagi, aku sedang ingin berbagi!

Kau dengar itu? Bukalah pintumu!
Jamu musim hujan sebagai tamu.
Ia datang mencari kesedihan di matamu
demi bebaris puisi yang selalu kau sebut tangis.

hujan hijau
bertunas-tumbuh
sehabis subuh

di beranda aku jadi penonton
mereka jadi ranting lalu berbunga
aku membayangkan kau tiba
kuyup menyusup
mencari hangat matahari
ke dalam ringkih rengkuhku

satu-dua buah jatuh dipetik
lentik jari-jari angin
aku pungut
mengupas dan mengunyahnya
kecut
seperti suara sol sepatumu
menjauh dari pipih pintu

sambil berlari-lari dalam kota
dari bangunan berita koran
aku merangkai-rangkai cerita sendiri
sebuah hutan tumbuh di halaman
entah di mana diletakkan tepian
aku sesat di tengah-tengah sendirian

kuhirup kopi sebelum berlalu dingin
kau tahu, kopi itu kuseduh
sambil tersedu-sedu
sebab alangkah sendu
bunyi sendok dan gelas beradu

tunas hijau hujan mulai berdaun lebat
aku melihat wajahmu sekelebat
lalu lesat
ke arah tak kuingat

pagi itu
jarum jam menjauh
di beranda aku beku
di manakah kau?

2006