AKU baru saja pindah kerja dan menempati ruangan baru.
Barangkali bekas pemilik ruangan ini sengaja memasang
di dinding dekat meja kerjaku, bingkai berisi gambar repro
seorang perempuan yang pernah berperan di sebuah film lama.
Dia telentang telanjang di hamparan rumput warna hijau-coklat.
Kesepian sekali dia bagiku. Payudaranya aku lihat bagai bukit
yang tak ditumbuhi pohon apa pun. Putingnya lebih menyerupai
batu nisan. Tubuh siapakah gerangan yang terkubur di sana?

Semakin aku memandang gambar itu semakin aku merindukan ibuku.
Dulu aku membayangkan tubuhku terkubur di antara dua payudaranya
selama-lamanya sebagai seorang bayi yang tidak mengenal kata-kata
kecuali suara-suara ayah yang selalu menghendaki aku tumbuh dewasa.

*

AKU baru saja pindah kerja dan mendapati pimpinan baru.
Di hari pertama wajahnya tak menyerupai wajah siapa pun
yang aku kenal. Namun di hari kedua dan selanjutnya dia
berubah jadi ayahku: suka marah-marah dan menganggap aku
selalu sebagai seorang anak kecil yang tak memahami apa-apa.
Setiap hari dia menanam keperihan-keperihan baru di dadaku.

Barangkali karena itulah bekas pemilik ruangan ini memasang
gambar perempuan telanjang yang mirip ibu, ibuku atau mungkin
juga ibunya, di dekat meja kerja di ruangan baru ini. Agar tak terlupa
bahwa ibu satu-satunya peri yang bisa menghibur segala rupa perih.

usiaku baru tiba di angka empat
saat sebuah bus berhenti di depan rumah
lalu pergi membawa lambaian ayah

ketika itu ibu mengenakan senyuman
pikirku pasti ia sedang bahagia
lalu aku kenakan juga senyuman
sebab aku pun ingin bahagia

kini aku sudah jauh meninggalkan usia empat
tetapi bus yang dulu itu tidak pernah kembali
juga ayah dan oleh-oleh yang ia janjikan

telah lama aku menanggalkan senyuman
namun ibu masih mengenakan senyuman yang sama
karena itu selalu aku bertanya: apakah ibu masih bahagia?

sambil tersenyum, ibu akan menjawab:
aku terus rindu dan menunggu ayahmu pulang,
itulah yang membuat aku tetap tersenyum
itulah yang membuat aku tak berhenti bahagia

sejak kaki ayah tak lagi mengenal bilah-bilah
lantai rumah kayu yang pernah dibangunnya
dan aku serta dua adikku memiliki pikiran
masing-masing yang berbeda satu sama lain
ibu bersahabat dengan benda-benda tajam

jarum

untuk menjahit, katanya
sebab waktu senantiasa selimut rombeng
sementara tulang-tulangnya jadi sarang
penyakit aneh yang tak bisa ia sebutkan namanya
seperti menyebut nama-nama orang yang dicintainya

pisau

kadang-kadang ia benci ranum buah-buahan
apel dan tomat yang merah,
semangka dan mangga berkulit kencang
atau mentimun yang segar dan putih

masa-masa remajanya tak bisa kembali
seperti juga alamat ayah yang sia-sia dicari

gunting

bunga-bunga dan rumput di halaman
suka berubah jadi uban di kepalanya
ia tak ingin ada hutan menyeramkan
tumbuh di sana sebab bagaimanapun
ia tak pernah lelah menunggu anaknya
datang mencium keningnya atau
mungkin ayah dengan oleh-oleh
sebuah cerita tentang petualangan

cermin

bukan dada dan pipinya yang suka ia ajak bicara
tetapi ia senang menantang sepasang matanya
agar terus bertahan dan tidak segera menyerah
kepada musim hujan dan mimpi-mimpi buruk
yang selalu bersiap melompat masuk ke sana

2007

aku bertemu ibu di halaman belakang
ia sedang bernyanyi-nyanyi kecil
atau menangis sambil mencabut rumput
nakal yang memanjat pagar

di halaman depan, aku melihat ayah
sedang menikmati kopi dan
koran pagi yang basi, asbaknya
penuh kecemasan

aku juga bertemu si penyair
di selembar kata pengantar
tetapi ia tak mau menjelaskan
mengapa ibu dan ayahku dipisahkan
berlembar-lembar halaman

2006

dari pintu yang kuak setengah
ibu melambaikan tangan
sambil tertunduk memasrahkan biji-biji
air mata pada lantai

air mata itulah yang tumbuh jadi laut
seluruh pantainya adalah muara

suatu waktu, ayahmu kembali
dibawa oleh sungai
aku akan menerimanya meski
telah menjadi daun kering
atau sampah
atau apa pun,
katanya padaku

aku berenang berhari-hari
tetapi laut itu sungguh luas
dan setiap pulau yang kudatangi
tak menyimpan tubuh ayahku

aku juga memanjat punggung-punggung gunung
tetapi setiap tangga menuju arah yang salah

ibu tetap menunggu di atas doa-doa
dan uban-ubannya rontok satu-satu
menjadi kayu bakar
yang memanaskan tungku tanah liat
agar kami tetap kuat

2006

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.