: di Pantai Kamali

malam menyala di Kamali
perahu-perahu menyandarkan bahu
di pantai sambil menunggu nelayan

seekor naga yang hanya pernah
aku dengar dari dongeng di pangkal tidurku
gagah menjaga anak-anak bermain di pantai

para penjaja kasuami menanti pembeli
menyapaku dengan manis senyuman
membuat tanganku merasa bersalah
jika tidak sampai merogoh saku

“Tuan pasti seorang pendatang,
peluhnya tidak beraroma ikan.”

sambil menyesuaikan lidah dengan kasuami
di Kamali aku menyaksikan
malam terbenam ke dalam kalut
dan bulan tenggelam ke dalam laut

Bau-bau, 2007

Catatan:
-Kasuami adalah penganan khas Buton, terbuat dari ampas ubi kayu yang dikukus bersama kelapa. Penganan ini biasanya disantap bersama ikan bakar atau ikan saus.
-Di Pantai Kamali ada sebuah patung naga besar.

:di Pulau Kadatua

akhirnya aku tiba di tepi tebing pulau Kadatua
pulau sempit yang terjepit oleh keluasan air laut
pulau yang hanya memiliki satu perigi air tawar:
Uwe Maasi, ceruk batu yang selalu minta dibeli
dengan emas lalu membayarnya dengan belai
kasih sayang di rambut-rambut para lajang tua.

akhirnya aku tiba di tepi tebing pulau Kadatua
pulau suci yang menolak dihuni binatang anjing,
babi dan monyet. pulau yang hanya memiliki
batu dan para perempuan yang membilang
usia dengan memecahkan karang. pulau yang
pepohonnya susah payah menghidupi nelayan.

akhirnya aku tiba di tepi tebing pulau Kadatua
tersesat dalam rerimbunan bahasa yang asing
bahasa yang seluruhnya adalah nyanyian ingin
menidurkan ombak dan seluruh yang bergolak
serta membangunkan seluruh yang tergeletak

akhirnya aku tiba di tepi tebing pulau Kadatua
menemukan panas matahari dan dingin angin
laut bersahabat sangat dekat seperti kekasih
yang menikmati cinta di perbatasan antara
enggan dan akan, antara pergi dan kembali.

Bau-bau, 2007

catatan:
- Kadatua adalah nama pulau kecil sebuah kecamatan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.
- Uwe Maasi, satu-satunya sumber air tawar di Kadatua. Uwe dalam bahasa setempat berarti ‘air’ dan Maasi berarti ‘emas’. Konon airnya hanya akan muncul jika diberi emas. Sumur ini juga biasa disebut sumur jodoh, tempat para lajang mandi agar bisa lekas menikah. Maasi juga bisa berarti ‘kasih sayang’.
- Pulau Kadatua dipercaya oleh penduduk sebagai pulau suci. Anjing, babi dan monyet tak bisa hidup di sana.
- Perempuan-perempuan di Pulau Kadatua banyak hidup dengan menjadi pemecah batu sementara lelaki sebagai nelayan.

:di pelabuhan udara Hasanuddin Makassar

PUKUL SIANG. jalan-jalan dibersihkan dari kendaraan. wakil presiden sedang datang bertandang. taksi bernomor 50 (mengingatkan aku pada tahun lahir ibuku) yang membawa aku ke bandara dihentitepipaksakan beberapa polisi lalulintas.

kata lembar tiket yang aku beli mahal di sebuah travel murahan, aku harus boarding paling telat pukul 12.30. kata sopir taksi, sekarang sudah pukul 12.10. tetapi ia tak yakin pada ketepatan jam duduk di depan setir taksinya. seperti juga aku tak yakin pada ketepatan angka-angka berwarna merah yang tertera pada argometer.

tiba di bandara beberapa menit kemudian. bayar taksi dan menunggu uang kembalian. petugas berseragam memeriksa tiket. barang-barang melewati mesin sensor. ponsel di kantongku membuat pintu berbunyi. beberapa orang menangkap wajahku tetapi aku buru-buru. sialan! aku ketinggalan pesawat. kata seorang gadis yang seharusnya lebih cantik jika ia lebih murah senyum, aku telat tak lebih dari tiga menit.

aku kutuk kepelitanku pada sopir taksi tak merelakan uang kembalian. aku kutuk petugas yang memeriksa tiketku sambil berbincang di telepon. aku kutuk mesin sensor yang penuh kecurigaan. aku kutuk ponsel di kantong celanaku dan pintu yang berbunyi membuat langkahku terhenti beberapa saat. aku kutuk jam sopir taksi yang tidak tepat. aku kutuk polisi yang menghentikan taksi. aku kutuk wakil presiden yang datang bertandang saat aku mau pergi.

aku bersandar di depan toilet di bawah tanda larangan merokok. lesu dan lusuh membayangkan tubuhku duduk mengunyah permen di kursi pesawat atau suara dan gerak pramugari bicara tentang cara menyelamatkan diri dari kejatuhan.

TIKETKU hangus di tangan yang basah oleh peluh. aku harus membeli tiket baru harganya 3 kali lebih mahal. pesawat berangkat 3 jam kemudian. aku tunggu saja di sini, di ruang tempat para penumpang berpisah dengan keluarga atau kekasihnya daripada harus pulang dan malu pada orang-orang yang baru saja melambai. daripada harus kembali mengutuk polisi dan sopir taksi. daripada uangku habis membeli tiket mahal yang kemudian hangus di tanganku yang selalu berpeluh.

tak ada orang yang bisa diajak berbincang. sebagian sedang terburu-buru sebagian sedang bersedih dan minta dipeluk sebelum ditinggalkan. dan aku sedang tidak ingin mengutuk siapa-siapa lagi termasuk diriku sendiri. di bandara 3 jam lama sekali. bisa habis satu novel atau selusin majalah.

aku pergi ke toko buku. mencari-cari satu buku pembunuh waktu. uang kembalian sopir taksi tadi mungkin bisa ditukar dengan selembar novel tipis. di rak buku aku cari nama pengarang yang tak aku kenal dan tak mengenalku. aku bertemu akhirnya. sampulnya sedih sekali. berwarna biru langit sebelum hujan (mengingatkan aku pada warna logo pesawat yang meninggalkanku). novel cinta yang kata penjualnya baru saja masuk dua minggu yang lalu.

aku mulai membaca dari halaman pertama. halaman tempat pengarang berterima kasih dan tak mengutuk siapa-siapa. dia berterima kasih kepada tuhan, kepada orang tuanya yang sudah meninggal, kepada editornya yang bekerja keras membetulkan seluruh kesalahannya, juga kepada nama-nama yang disebutnya sebagai sahabat. setelah berterima kasih kepada pembaca yang mau membuat waktu membaca novelnya, ia berterima kasih kepada kekasihnya. aku mengenal nama kekasihnya, sangat mengenalnya. ternyata dia sekarang jadi kekasih seorang penulis yang baru saja menerbitkan buku pertamanya.

PERJALANAN ini sesungguhnya aku buat dengan kehendak ingin mengasingkan kenangan. tetapi ada gejala kenangan akan membuktikan sekali lagi kebenarannya sebagai mahluk aneh paling keras kepala dan memiliki banyak sahabat di mana-mana. sahabat yang mengenal akrab namaku.

Kendari, 2007