SUARA ketukan air hujan di kaca jendela kamar
seperti suara ketikan surat berlembar-lembar
Hujan tak sejahat yang kau duga, katanya.
Oleh hujan padang rumput yang semula berona
tanah menjelma hamparan hijau karpet beledu
Dan rumput-rumput hijau membuat ternak-ternak
riang bukan kepalang dan karenanya berubah gemuk
Dari ternak-ternak gemuk datanglah sempurna
irisan-irisan daging kurban yang segar dan nikmat.
SUARA tebaran air hujan di lempeng seng rumah
seirama suara debaran jantungku penuh gelisah
Di sela hujan suara-suara takbir dari surau-surau
bagai puisi yang memanggil dari jauh dengan haru
Puisi haru dari jauh bagai gerbong kereta yang mengantar
kembali wajahmu yang pelan-pelan mengabur dan samar
Dan wajah samar yang datang bertamu di malam lebaran
membuat jantungku tak mampu menampung semua debaran.
2006
Beginilah akhirnya yang mampu aku tuliskan;
sebuah sajak yang tak indah.
sebab semua kata yang dulu indah di mata-telinga
telah menyembunyikan dirinya entah di mana
sementara waktu telah pula mempercepat langkah
seperti diburu bermacam-macam masalah.
maka lihatlah betapa miskin sajak ini!
seperti seorang janda yang memaksa anaknya
melupakan sepatu dan tas berisi buku dan pensil
agar mau merelakan diri jadi kadal di jalan raya.
seperti juga tetangganya yang memenggal kepala
anak-anaknya yang menangis meminta makan.
maka lihatlah betapa koyak sajak ini!
persis seperti pakaian para pengemis
yang selalu membuat gadis-gadis
jijik dan tak bisa makan berhari-hari.
persis sebuah kampung yang berkali-kali
dilindas kaki-kaki bencana.
beginilah akhirnya yang mampu kutuliskan:
sebuah sajak yang tak indah.
sebab kalimat sudah tak punya tangan
sejak dilukai oleh poster-poster kampanye
calon presiden dan gubernur
sementara air mata tak lagi manjur
menyembuhkan rasa sakit atau luka.
andai saja sajak ini sedikit lebih indah
akan aku sampirkan pada surat cintaku padamu
–cinta yang padanya seluruh rambut,
gigi dan usiaku rela berguguran.
2006
GENANGAN KENANGAN
2007
:dari suratmu yang baru saja tiba
apakah engkau masih tidur dengan mata setengah pejam
dan mulut terbuka–seperti meminta bisikan di bibirmu?
apakah engkau masih memelihara janggut
untuk menutupi dagumu yang miring?
apakah engkau masih suka tidur di antara serakan buku-buku
–sambil berharap menangkap mimpi untuk ditulis jadi sebait puisi?
apakah engkau ke mana-mana masih dengan tas seminar
dan buku-buku tebal yang membuat bahumu condong?
apakah engkau masih mengisap rokok
dan menyemprot badan dengan wewangian merek yang sama?
apakah engkau masih sering tertawa dan menangis lepas?
apakah engkau masih bisa merasakanku?
apakah engkau mau membalas suratku?
nb: baju hangat biru tua itu yang kita beli di toko diskon,
masihkah membungkus tubuhmu musim hujan kali ini?
2006
PETIR
2007
apakah kau dengar
petir dari balik bilik
dadaku bergetar getir
ah, kau angka kalender
itu-itu saja
seperti seorang raja
menunggu tiba kudeta
sia-sialah segala suara kulontar
seperti kerontang belukar
menunggu bakar
aku belum bertemu putus asa
meski mata berkali-kali basah
biarlah segala yang di luar
adalah negeri asing yang bingar
namun suaraku jadikan paling dengar
sebab aku tak perlu
bertanya sesering ini
bahwa temali
takdirnya lepas dari simpul
biarlah kelopak kembang
memilih dongeng sendiri
seperti sisir dedaun pisang
pada rambut angin
seperti tumpukan gelisah
pada ceruk asbak
tetapi kau,
tiada memiliki telinga
2006
HUJAN PAGI
2007
hujan hijau
bertunas-tumbuh
sehabis subuh
di beranda aku jadi penonton
mereka jadi ranting lalu berbunga
aku membayangkan kau tiba
kuyup menyusup
mencari hangat matahari
ke dalam ringkih rengkuhku
satu-dua buah jatuh dipetik
lentik jari-jari angin
aku pungut
mengupas dan mengunyahnya
kecut
seperti suara sol sepatumu
menjauh dari pipih pintu
sambil berlari-lari dalam kota
dari bangunan berita koran
aku merangkai-rangkai cerita sendiri
sebuah hutan tumbuh di halaman
entah di mana diletakkan tepian
aku sesat di tengah-tengah sendirian
kuhirup kopi sebelum berlalu dingin
kau tahu, kopi itu kuseduh
sambil tersedu-sedu
sebab alangkah sendu
bunyi sendok dan gelas beradu
tunas hijau hujan mulai berdaun lebat
aku melihat wajahmu sekelebat
lalu lesat
ke arah tak kuingat
pagi itu
jarum jam menjauh
di beranda aku beku
di manakah kau?
2006