seperti biasa, ia berangkat pagi buta
meninggalkan rumah, istri dan anaknya
ada banyak surat yang harus dibawa
buat orang yang rindu menunggu berita
seikat surat buat tentara-tentara dari istri
yang rindu suami mereka tiada terperi
sungguh sepi tidur sendiri malamhari
dan takut suami tertembak mati
ada juga surat dari suami-suami
yang tinggal sembunyi di luar negeri
karena diburu-buru oleh polisi
katanya mereka tak mau berdamai
ada surat seorang ayah di lain pulau
anaknya ulang tahun ke sepuluh
surat itu bersampul merah jambu
diikat pita-pita berwarna ungu
ada surat buat seorang kekasih
tentang kabar gembira kuliah telah selesai
sebentar lagi ia akan punya gaji sendiri
sebentar lagi ia pulang membawa diri
dan mereka akan menjadi suami-istri
sebelum surat-surat itu sampai
ada gempa dahsyat disusul tsunami
surat-surat itu entah di mana kini
pak pos juga tak ditemukan lagi
2005
/1/
hari ini engkau sungguh gembira
diwisuda dan bergelar sarjana
hatimu senang tinggi melambung
yang datang seisi kampung.
“selamat berjuang, semoga engkau diterima sebuah perusahaan!”
/2/
hari ini aku juga mengirim duka
satu sahabat tak sempat diwisuda
ombak datang tinggi menggulung
menghabiskan seisi kampung
“selamat jalan, semoga engkau diterima di sisi Tuhan!”
2005
tak seperti di kiri dan di kanan
tokonya selalu sepi pelanggan
meski ia juga menjual kain
seperti toko-toko yang lain
kalau ada orang yang mati
apalagi penguasa yang suka korupsi
ia sungguh bersenang hati
sebab kainnya laku terbeli
begitulah dari jaman ke jaman
ia hanya berjualan kain kafan
agar hidupnya bisa terus berjalan
dan anak-istrinya bisa makan
semalam ia lihat dari tv disiarkan
di aceh sebuah musibah datang
di mana-mana mayat berserakan
mengiris hati, sungguh menyedihkan
ia menangis dan berucap pelan,
“sungguh, ini bukan doaku, Tuhan!”
2005
hari itu, ia beranjak dari tidurnya lebih dini
ingin sekali ia merampungkan sebuah puisi
perihal keinginan untuk selesai, untuk mati
terkubur di laut biru tanpa nisan tanpa peti
dengan baju penghangat dan secangkir kopi
ia mulai menulis bait-bait dari kesunyian pagi
di luar jendela, alam seperti gadis seusai mandi
pepohonan dan rerumputan basah oleh hujan rinai
“hari yang indah untuk mati,”
kata penyair tua dalam hati.
sesampainya ia di kalimat pertama bait kedua
segala benda di sekitarnya menari oleh gempa
menyisakan garis-garis retak di dinding bata
rumah yang sudah rapuh jatuh seumpama airmata
seperti ada sesuatu yang lucu, ia tertawa
“tuhan, aku tak mau mati dijepit tanah!”
gempa reda, penyair tua ingin kembali ke dalam puisi
tetapi ia dihadang ombak yang hendak menjemputnya pergi
menuju abadi, berbaring di kedalaman laut penuh misteri
sebelum terlempar dari kursi, ia tersenyum pada diri sendiri
“terima kasih, tuhan, telah berabad-abad engkau kunanti!”
2005
suatu waktu nanti akan sampai
di telingamu selarik kata-kata
atau di matamu secarik berita
bahwa aku telah titik dan selesai
di sini dalam puisi ini kukatakan saja
hei, itu sebuah kebohongan raksasa!
ia yang lahir 25 tahun lalu
boleh mereka kira mati dan berlalu
namun yang tumbuh rimbun di bebait puisi
itulah aku, tak akan layu dan hidup abadi
2005