Aku pulang menjenguk kota kelahiranku, namun
aku merasa merantau ke sebuah kota yang baru,
kota asing yang tak pernah kudatangi sebelumnya.

Kau tahu, dulu kota kelahiranku dibelit sungai dalam.
Matahari berwarna jingga hingga jam sembilan malam.
Matahari bangun lebih awal dengan iringan riang burung,
biasanya ketika doa-doa shalat subuh baru saja rampung.

Kini di kota ini hanya ada siang, tidak ada lagi malam.
Orang-orang tak suka tidur. Tidur sejam akan membuat
mereka tertinggal seratus malam. Dalam sejam kota ini
mampu berganti jadi kota-kota yang lain berulang kali.

Catatan ini tidak aku tuliskan karena kehilangan kota
kelahiranku itu. Tidak. Semata hanya ingin mengatakan
kepada semua orang agar merawat ingatan baik-baik
sebab perantau seperti aku hanya akan pulang ke kenangan.

Leave a Reply