PAGI INI

2007

PAGI ini aku terbangun persis di tempat aku tertidur semalam
tapi langit-langit dan dinding kamarku sudah hilang dari tempatnya.
Kepalaku besar dan berat sekali dipenuhi segala macam peristiwa
bahkan yang sama sekali tak pernah aku alami sebelumnya. Mereka
didatangkan dari negeri-negeri yang asing, dari ingatan orang lain.
Peristiwa-peristiwa itu dimasukkan oleh seorang pengantar mimpi
yang menemukan kepala orang lain tak satu pun terbuka. Apakah
dia berpikir kepalaku adalah kotak surat atau mengira aku seorang
yang bisa mengubah peristiwa menjadi berita untuk koran harian?

Pagi ini jalanan dipenuhi pejalan kaki yang datang entah dari mana.
Ramai sekali. Tidak aku temukan seorang pun yang namanya pernah
aku catat di buku teleponku. Semua orang adalah orang lain. Mereka
berjalan dengan sangat ringan seperti topi diterbangkan angin pantai.
Tetapi kakiku selalu menemukan paku di setiap langkah yang mampu
diciptakannya. Dan kepalaku alangkah susah dipalingkan ke sebelah
kiri atau ke kanan. Aku dengar peristiwa-peristiwa itu ribut berkelahi
persis penonton sepakbola dari kubu-kubu yang saling mendendam.
Tapi peristiwa-peristiwa itu tak menyadari diri mereka sebenarnya
kumpulan ingatan yang salah alamat sampai, ingatan yang tersesat.

Pagi ini susah payah aku mencari satu rumah makan yang pintunya
tak dipalang buat sarapan dua irisan roti mentega dan secangkir kopi.
Tapi akhirnya aku menemukan sebuah tempat lengang yang di daftar
menunya menyebut banyak nama makanan tradisional tetapi hanya
menyediakan mi instan buatan pabrik luar negeri.Tak apalah, kataku
kepada pelayan yang belepotan memakai bahasa daerahnya sendiri.
Sepuluh menit menunggu sarapan bagai berabad diasingkan penjajah.
Sialan! Peristiwa-peristiwa di kepalaku terus berteriak-teriak bercacian.
Aku habiskan mi instan rebus yang mengingatkanku pada rambut api
seorang pahlawan dari film kartun dengan berkali-kali bersin di selanya.

Pagi ini aku mencari sebuah kamar mandi buat buang air dan melepas
kepala yang semakin kembung. Tetapi di sisi-sisi jalan melulu cuma mall
yang tak menyiapkan toilet. Aku amat kelelahan. Aku berhenti di halte
yang dipenuhi penunggu. Tetapi tak ada satu pun kendaraan melintas.
Aku kelelahan membawa ginjal dan lambung yang mau buang air. Aku
kelelahan membawa kepala yang ribut. Aku mulai kelelahan menunggu.

Pagi ini aku memutuskan pura-pura jadi orang gila dan tidur di trotoar.
Aku biarkan kepalaku diinjak-injak pejalan kaki yang ringan bagai topi.
Aku biarkan kepalaku pecah bagai telur yang hendak dibuat jadi omlet.
Aku biarkan peristiwa-persitiwa meleleh ke jalan dan melengket pada sol
sepatu orang-orang. Aku terpingkal-pingkal agar sekalian bisa buang air.

AKU baru saja pindah kerja dan menempati ruangan baru.
Barangkali bekas pemilik ruangan ini sengaja memasang
di dinding dekat meja kerjaku, bingkai berisi gambar repro
seorang perempuan yang pernah berperan di sebuah film lama.
Dia telentang telanjang di hamparan rumput warna hijau-coklat.
Kesepian sekali dia bagiku. Payudaranya aku lihat bagai bukit
yang tak ditumbuhi pohon apa pun. Putingnya lebih menyerupai
batu nisan. Tubuh siapakah gerangan yang terkubur di sana?

Semakin aku memandang gambar itu semakin aku merindukan ibuku.
Dulu aku membayangkan tubuhku terkubur di antara dua payudaranya
selama-lamanya sebagai seorang bayi yang tidak mengenal kata-kata
kecuali suara-suara ayah yang selalu menghendaki aku tumbuh dewasa.

*

AKU baru saja pindah kerja dan mendapati pimpinan baru.
Di hari pertama wajahnya tak menyerupai wajah siapa pun
yang aku kenal. Namun di hari kedua dan selanjutnya dia
berubah jadi ayahku: suka marah-marah dan menganggap aku
selalu sebagai seorang anak kecil yang tak memahami apa-apa.
Setiap hari dia menanam keperihan-keperihan baru di dadaku.

Barangkali karena itulah bekas pemilik ruangan ini memasang
gambar perempuan telanjang yang mirip ibu, ibuku atau mungkin
juga ibunya, di dekat meja kerja di ruangan baru ini. Agar tak terlupa
bahwa ibu satu-satunya peri yang bisa menghibur segala rupa perih.

entah mengapa selalu aku bayangkan puisi ini
adalah doa seorang anak kecil yang terbata-bata

Tuhan, maukah Kau mengatakan kepada bapak
agar dia berhenti bercita-cita seperti anak kecil?
dia ingin dunia dan isinya jadi tabungan keluarga
katanya untuk masa depanku, padahal aku tak
mau menanggung dosa itu. Tuhan, tolonglah aku!

entah mengapa selalu aku bayangkan diriku ini
adalah seorang bapak diam-diam sedang menangis
membaca puisi ini, doa anakku yang terbata-bata ini

Terima kasih, Tuhan, Kau jadikan anakku puisi!

dan entah mengapa juga selalu aku bayangkan kau
adalah ibu dari anakku beserta doanya juga puisi ini

usiaku baru tiba di angka empat
saat sebuah bus berhenti di depan rumah
lalu pergi membawa lambaian ayah

ketika itu ibu mengenakan senyuman
pikirku pasti ia sedang bahagia
lalu aku kenakan juga senyuman
sebab aku pun ingin bahagia

kini aku sudah jauh meninggalkan usia empat
tetapi bus yang dulu itu tidak pernah kembali
juga ayah dan oleh-oleh yang ia janjikan

telah lama aku menanggalkan senyuman
namun ibu masih mengenakan senyuman yang sama
karena itu selalu aku bertanya: apakah ibu masih bahagia?

sambil tersenyum, ibu akan menjawab:
aku terus rindu dan menunggu ayahmu pulang,
itulah yang membuat aku tetap tersenyum
itulah yang membuat aku tak berhenti bahagia