PELUKAN

2007

/1/

sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?

masih aku ingat pertanyaanmu itu
dulu aku tak bisa menjawabnya
tetapi begitulah kau, selalu begitu,
jika ada pertanyaan kau lontarkan
sudah kau siapkan juga jawaban

lenganmu memang terlalu pendek buat tubuhmu
tetapi tentu saja cukup panjang buat tubuhku

lalu kau merasuk ke dalam pelukanku
dan berdiam di sana

masih kau simpan pelukan itu?

kita bertanya serempak
lalu sama-sama terbahak

pelukanlah satu-satunya
jawaban atas pertanyaan itu

lalu benam kita ke dalam kenangan

/2/

istriku lebih suka memeluk dari pada berkata-kata:
aku mencintaimu, nak!
aku mencintaimu, pak!
seolah-olah dua lengannya
bisa menyampaikan semua rahasia

anak-anak kami tumbuh
lebih mencintai lengan dari pada kata-kata

itulah sebabnya istriku setiap malam
berdoa agar ia bisa jadi seekor gurita
dan semua kami bisa masuk ke dalam
pelukan tangan-tangannya

/3/

satu per satu tubuh
akan lepas dari pelukan
lalu lengan-lengan kita
mulai mengenal sengketa
mulai mengenal senjata

tubuh memang ditakdirkan
awalnya jadi milik pelukan
lalu kemudian milik peluru

2007

sejak kaki ayah tak lagi mengenal bilah-bilah
lantai rumah kayu yang pernah dibangunnya
dan aku serta dua adikku memiliki pikiran
masing-masing yang berbeda satu sama lain
ibu bersahabat dengan benda-benda tajam

jarum

untuk menjahit, katanya
sebab waktu senantiasa selimut rombeng
sementara tulang-tulangnya jadi sarang
penyakit aneh yang tak bisa ia sebutkan namanya
seperti menyebut nama-nama orang yang dicintainya

pisau

kadang-kadang ia benci ranum buah-buahan
apel dan tomat yang merah,
semangka dan mangga berkulit kencang
atau mentimun yang segar dan putih

masa-masa remajanya tak bisa kembali
seperti juga alamat ayah yang sia-sia dicari

gunting

bunga-bunga dan rumput di halaman
suka berubah jadi uban di kepalanya
ia tak ingin ada hutan menyeramkan
tumbuh di sana sebab bagaimanapun
ia tak pernah lelah menunggu anaknya
datang mencium keningnya atau
mungkin ayah dengan oleh-oleh
sebuah cerita tentang petualangan

cermin

bukan dada dan pipinya yang suka ia ajak bicara
tetapi ia senang menantang sepasang matanya
agar terus bertahan dan tidak segera menyerah
kepada musim hujan dan mimpi-mimpi buruk
yang selalu bersiap melompat masuk ke sana

2007

:Nenek

BEBERAPA hari setelah kau pergi
aku menerima kiriman ini:
sore berwarna merah hati seperti bibirmu
belepotan dengan daun sirih dan pinang
juga dongeng yang tak menemukan akhirnya

tentang lelaki yang suka bersenandung
setiap mendengar malam jatuh di bubungan
dan seorang perempuan yang hidup
dengan telinga di setiap ujung rambutnya

BEBERAPA hari setelah kau pergi
aku akhirnya membuka jendela kamar
dan menemukan hujan membuat danau
di sepatu kiriku dan laut di sepatu kananku

lima jari kakiku jadi anak kecil di danau itu berenang
seperti waktu tak punya kemauan untuk beranjak
lima jari kakiku yang lain bersiap jadi perantau
berlayar menunggang ombak mencari jarak
ingin segera melupakan waktu yang bergerak

BEBERAPA hari setelah kau pergi
di langit aku berjumpa dengan bulan
tipis seperti sesungging senyum yang enggan
dan awan abu-abu seperti seragam yang kotor

aku mengenang senyummu di sebuah pagi
ketika usiaku belum pantas menyebut-nyebut
perempuan, pelaminan atau malam pertama
dan kau memegang kelaminku yang belum disunat

BEBERAPA hari setelah kau pergi
pohon-pohon kopi di belakang rumah
memasang musim semi di rantingya
bunganya membawa kembali nafas,
aroma konde dan pelukanmu ke dadaku

pohon-pohon kopi itu kau yang tanam
sebab katamu kau benci kopi kemasan
pohon-pohon itu kau wariskan kepadaku
agar aku selalu lebih cerah dari matahari