SAFINAH
2007
/1/
engkau memasang langkah di kakiku
engkau memasang ayun di tanganku
agar aku menjauh dan merindukanmu
dan engkau juga menyimpan sesuatu
di dalam waktu, aku tak tahu apa itu
karenanya aku terus tumbuh menuju
semakin dekat ke masa kecilku
semakin kembali ke bukit-dadamu
semakin kembali ke lembah-rahimmu
/2/
dari berangkat langit mengikutiku
penuh lubang seperti jaring nelayan
selalu luput menangkap seekor ikan
begitulah yang aku pikirkan di sini
di kejauhan yang hiruk oleh sepi ini
dan di dalam mataku yang terluka
selalu aku saksikan matamu terbuka
menampung seluruh langit yang nila
langit yang jauh dari musim hujan
langit yang meminta kita tiduran
di padang rumput sambil bercerita
tentang rupa-rupa nama burung
dan matahari sore yang murung
/3/
dulu aku mencuri sehelai fotomu dari album
dan aku sembunyikan di dompet kurusku
lalu berangkat tanpa tahu ke mana mengarah
di sini, di tempat yang sungguh jauh dari rumah
jauh dari album yang pernah menyimpan foto itu,
waktu melulu dipenuhi sapa sepi dan bunyi sunyi
tapi dari dompetku selalu aku dengar kau bernyanyi
mengulang-ulang kata pulang dan rembang petang
supaya kedua kakiku semakin kuat buat bertualang
/4/
di antara awan-awan yang melayang
alangkah biru angkasa itu
di antara jalan-jalan yang membentang
alangkah rindu anakmu, ibu
2007
ENGKAU DAN SAJAKKU
2007
engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana
agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan
seperti aku sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja
agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan
2007
KEPADA PENYAIR
2007
di tempat-tempat yang tak sempat dilewati kakimu
pengalaman-pengalaman sedang mencari tubuhmu
tetapi bundar bumi amat besar buat ringkas usiamu
seluruh pengalaman-pengalaman itu sungguh butuh
sajak-sajakmu sebagai suara agar mampu menyentuh
telinga dan dada orang-orang itu lebih indah dan utuh
2007
INTEROGASI
2007
siapa tuhanmu?
siapa nabimu?
sudah betulkah pertanyaannya seperti itu?
tidakkah itu mengingatkanmu suatu waktu
di masa kecilmu saat melihat anak-anak lain
masuk ruangan diajari berdoa dan bernyanyi?
kau heran mengapa tak ditanya siapa nama ibu
dan ayah yang menelantarkanmu di jalan raya
padahal kau lebih merindukan keduanya
melebihi apapun melebihi siapapun
jangan-jangan semuanya bersekongkol
hendak menyiksamu dalam rasa perih
dengan merahasiakan silsilahmu?
siapa saudaramu?
kau menunjuk teman-temanmu
orang-orang melata itu
yang tawa paling riangnya adalah tangis
paling haru
banyak yang tertawa pada caramu menjawab
tetapi kau memang polos sekali
dan itulah kau, ikut tertawa pula
karena mereka memang senang
didustai—dan terutama mendustai
apa kitabmu?
ke mana kiblatmu?
kau tak perlu menjawabnya
ya, kau ingin tidur saja
tanpa diganggu mimpi buruk
tentang abjad dan arah
ketahuilah ada orang lain
bertanggungjawab
atas kepolosanmu
atas kebodohanmu
namun mereka tidak mau
memikirkanmu
sedang sibuk, kata mereka
maka berbaringlah saja
tak perlu repot menjawab
hingga kau dengar ada suara
yang sungguh-sungguh bertanya
mengapa kau diam?
2007
DI DEPAN PINTU
2007
tas sudah sarat
waktu sudah tepat
langit sudah biru kembali
dan jalanan sudah meminta kaki
tetapi perpisahan
bagaimana sebaiknya diucapkan?
ah, mengapa tak aku persiapkan jauh waktu
sebelum bertemu kau?
2007